Kamis, 21 Juli 2011

KUNCI RAHASIA JALAN MENUJU ALLAH

KUNCI RAHASIA

JALAN MENUJU ALLAH






MARILAH KITA MULAI MEMBUKA PINTU HATI KITA WAHAI MUSLIMIN DAN MUSLIMAT PEMBACA BUDIMAN, MARILAH KITA MULAI MELANGKAH DENGAN TONGGAK AWAL DENGAN UCAPAN BISMILAHHIR RAHMANNIR RAHIM DENGAN BERBEKAL HATI SUCI , IKLAS, LUHUR, JUJUR, DAN SABAR TANPA BATAS UNTUK MENCAPAI KEESAAN ALLAH  SEHINGGA KITA BISA SAMPAI MENCAPAI KEDUDUKAN MANUSIA SEMPURNA ATAU INSAN KAMIL.



SEMUA INI BISA TERCAPAI
HANYA
KARENA KARUNIA ALLAH SEMATA




OLEH :
K A R N O



                                                             






B A B     I
 
DASAR MELANGKAH

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat :
Al-Baqarah  ( 2:269 ) è Dia memberikan hikmah ( ilmu yang berguna ) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mendapat hikmah itu, sesungguhnya ia telah mendapat kebajikan yang banyak; Dan tiadalah yang menerima peringatan melainkan orang-orang yang berakal.

Al- Zukruf  ( 43:43 ) è Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu, sesungguhnya  kamu berada di atas jalan yang lurus.

Al-Maidah ( 5:105 ) è Hai orang-orang yang beriman , jagalah dirimu sendiri, dan tiadalah membahayakan kepadamu orang-orang yang telah sesat, bila kamu telah mendapat petunjuk.  Kepada Allah tempat kembalimu sekalian, lalu Allah mengabarkan kepadamu apa-apa yang telah kamu amalkan.

Al-Fathir ( 35:32 ) è Kemudian Kami pusakakan kitab itu untuk orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Diantara mereka ada yang aniaya kepada dirinya (tidak menurut isi kitab itu ) dan diantaranya ada yang sederhana ( menurut sekedar tenaganya) dan diantaranya ada yang maju ( juara ) memperbuat kebaikan dengan ijin Allah. Itulah karunia yang besar.

An-Nahl ( 16:114 ) è Maka makanlah rezeki yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (rezeki) yang halal dan baik, dan berterima kasihlah atas nikmat Allah , jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Dari ayat-ayat  di atas merupakan tonggak awal melangkah kita  untuk menuju kepada Allah dengan hikmah dari Allah sendiri. Berpegang teguh kepada agama Allah dan juga atas petunjuk Allah pula. Karunia yang besar itu telah terlebih dahulu dimulai dengan mensuci bersihkan diri kita dengan makanan – makanan yang halal yang masuk kedalam tubuh kita. Hal ini harus kita jaga dan kita upayakan agar hati kita suci, selanjutnya diharapkan dapat bersifat dan bersikap luhur budi pekerti dan sabar tanpa batas.
Sedikit-demi sedikit sifat-sifat terpuji itu akan masuk ke dalam hati nurani kita , insya Allah.


ALLAH BERSIFAT RAHMAN DAN RAHIM
Dalam Asmaul Husna , Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ( Maha Rahman dan Maha Rahim ) menempati urutan pertama dan kedua. Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Allah kasih sayang terhadap makhluknya tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Baik yang taat kepada-Nya maupun yang ingkar . Tetapi bagi hamba-Nya yang taat dan yang telah dipilihnya, ia akan selalu iklas menerima putusan Allah dan selalu baik sangka (husnudzon ) atas kehendak-Nya.
Ketahuilah hamba yang demikian itu belum minta saja Allah telah memberinya, sebelum berdo’a Allah telah mengabulkan hajadnya, sebelum minta ampun , Allah telah mengampuninya kepada hambanya yang benar-benar taqwa.
Sesungguhnya Allah tahu akan hal kita, tak usah kita meminta kepada-Nya. Hal ini berlaku terutama kepada hambanya yang hatinya tiada lain kecuali Allah.














BAB II      H I D U P

HAKEKAT HIDUP

Dalam menjalani proses hidup dan kehidupan ini  kita seharusnya tahu  terlebih dahulu  :
Sebenarnya kita ini siapa ?
Dari mana ?
Untuk apa?

Sebelum lebih dalam kita bahas hal-hal di atas baiklah kita mulai dulu dari yang lebih mudah dahulu yaitu dalam hidup kita ini ada tatanan dan aturan hidup baik yang berhubungan antara manusia dengan manusia, maupun antara manusia dengan Tuhannya.( Hamblum minanas dan hablum minallah)

Dalam tatanan kehidupan Islam ada Rukun Iman dan Rukun Islam.
Rukun Iman ada 6 (enam) yaitu :
·         Iman kepada Alllah
·         Iman kepada Malaikat.
·         Iman kepada kitab-kitab Allah.
·         Iman kepada para   Rasul.
·         Iman kepada Hari kiamat.
·         Iman kepada Qodlo dan Qodar.

Pengertian iman adalah : Suatu keyakianan bermula dari percaya hingga sampai keyakinan mutlak ( Haqul Yakin).

IMAN KEPADA ALLAH.

Mengapa kita harus yakin bahwa Allah itu benar adanya? Secara akal , adanya manusia ini pasti ada yang menciptakan, demikian pula makluk-makluk yang lain. Adanya semua itu karena adanya Sang Pencipta, yaitu Allah Swt.
Kalau berbicara lebih jauh, bahwasanya Allah sebelum menciptakan yang lain-lainya, menciptakan terlebih dahulu yaitu NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad berasal dari Ruh Allah, sedang Ruh Manusia dan lain-lainnya berasal dari Ruh/Nur Muhammad.
Itulah sebabnya seluruh isi alam semesta ini baik yang kasat mata maupun yang tidak kelihatan oleh mata kita semua patuh dan tunduk kepada manusia Umat  Mohammad atas ijin Allah Swt.
Mengapa manusia yang ber ‘RUH’   dan berbadan kasar (Wadak) ini diciptakan terakhir oleh Allah ? Karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai kalifah di muka bumi otomatis semua kebutuhan manusia sudah disiapkan oleh A llah terlebih dahulu. Ini juga merupakan bukti sifat Rahman dan Rahim dari Allah.
Nabi Adam diciptakan dari tanah hitam kering dan hina. Sebenarnya Si Adam tercipta dari empat unsur  ( Tanah ,air, api, udara) lalu ditiupkan sebagian RUH kepadanya lalu  jadilah Nabi Adam. Saat kejadian /penciptaan , beliau langsung mengucapkan ‘ Kalimah syahahah ‘ ( LA ILAHA ILALLAH MUHAMMAD RASUL ALLAH ) Allah bertanya pada Nabi Adam : Mengapa engkau tahu hal itu hai Adam ? Nabi Adam menjawab bahwa  ia melihat ke atas  (Arsy). Tanpa diberintahu oleh Allah pun beliau telah melihat Nur Muhammad berdampingan dengan Allah (LA ILAHA ILALLAH MUHAMMAD RASUL ALLAH) Padahal (Muhammad manusia) belum diciptakan saat itu.

Oleh karena itu nanti kalau sudah  tercipta “Muhammad yang manusia” yang datang ke dunia beliau menjadi Nabi dan Rasul Allah, yang membawa Rahmat bagi seluruh alam semesta tanpa membeda-bedakan satu makluk dan yang lainnya. Karena pada hakekatnya semua yang ada  ini berasal dari RUHnya.
Dengan demikian kita harus meyakini bahwa Allah itu benar-benar ada adanya, tidak bisa kita pungkiri, Dialah yang awal tiada berawal dan yang akhir tiada berkhir dan Dia tiada yang dapat menyamainya LAISA KAMISLIH SAIUN.

IMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH.                                                              

Malaikat berasal dari kata ‘Malak’ jamaknya ‘malaai’ka’ akar kata dari ‘a’lak/a’luuka’ berarti “risalah” atau menyampaikan pesan .Jadi fungsi Malaikat adalah menyampaikan pesan kepada manusia. Malaikatlah yang bertugas membawa berita (kitab) dan juga tugasnya mereka masing-masing yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Misalnya :


1 . Jibril Tugasnya menyampaikan wahyu.
2 . Mikail Tugasnya mengurus hujan dan rezeki.
3 . Isrofil Tugasnya membunyikan seruling saat kiamat.
4 . Izroil Tugasnya mencabut nyawa .
5 . Rokib Tugasnya menullis amal baik manusia.
6 . Atid Tugasnya menulis amal jahat manusia.
7 . Munkar dan
8 .Nakir Tugasnya menanyai perbuatan baik dan buruk dalam kubur.
9 .Malik Tugasnya menjaga neraka .
10.Ridwan Tugasnya menjaga pintu surga .
                                                 
Untuk itu umat Islam diwajibkan untuk mempercayai/mengimani adanya malaikat-malaikat Allah tersebut.
Malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya, Malaikat itu tidak ada yang ingkar kepada Allah dan selalu sami’na wa toqna, karena malaikat tidak diberi nafsu tetapi diberi akal oleh Allah.


BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH.
Kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-Nabi kita , yaitu kitab Jabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an harus kita imani.
(Surat Al-Baqarah 2:136) “ Kami telah beriman kepada Allah dan KITAB yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim ,Ismail, Ishaq, Yaqup, dan anak-anaknya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu, dan kami patuh kepada Allah “.
(Surat Ali imran 2:3 ) “ Dia menurunkan Kitab (Qur-an) kepada Engkau  (Ya Muhammad) dengan membenarkan (kitab) yang sebelumnya, dan Dia menurunkan kitab Taurat dan Injil “.

 Kita ketahui bahwa ketiga kitab tersebut isinya telah termuat semua di dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kitab terakhir. Isinya sudah lengkap dan Allah sendiri yang menjamin kebenaran dan menjaga keselamatan kitab. Ditilik dari isinya kitab Al-Qur’an mengandung makna terang ( Muhkamat), ada yang bermakna tersembunyi (Muhtasabihat).
Apabila kita  mempelajari Al-Qur’an lalu kita temukan kata-kata yang tidak paham Tafsir ataupun taqwilnya kita diharuskan untuk mengimaninya. Karena didalamnya terdapat kebenaran mutlak , hanya daya nalar kita saja yang belum sampai. Untuk itu harus kita baca berulang-ulang lama-lama Allah sendiri yang mengajar kita tentang taqwilnya, asal kita tetap istiqomah atau terus- menerus (dawam).

CATATAN:
Untuk memahami Al-Qur’an itu sendiri , sesungguhnya Allah yang memberi penerang hati kita melalui ilham, Warid, petunjuk langsung; Taqwil dari yang makna muhtasabihat tadi. Jadi yang mengandung makna muhtasabihat kita mohon bimbingan Allah untuk menafsirkannya. Bukan mengira-ira apalagi akal-akalan. Ingat jika kemauan sendiri dan akal-akalan pasti sesat.
Kitab adalah media ,alat yang berisi aturan-aturan, hukum-hukum, larangan-larangan, petunjuk, cerita yang sempurna untuk dipelajari dan diamalkan oleh orang terdahulu maupun yang datang belakangan, sedang isinya tetap solit berlaku sampai akhir jaman.


BERIMAN KEPADA RASUL  ALLAH.

Umat Islam diwajibkan beriman kepada Nabi dan Rasul Allah. Sejak Nabi Adam hingga Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir tertera dalam Al-Qur’an (Surat Al- Ahzab 33: 40) “Muhammad itu bukan bapa salah seorang  diantara laki-laki kamu, tetapi dia Rasul Allah dan KESUDAHAN Nabi. Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu”
Didalam Al-Qur’an ada 25 Nabi yang harus kita imani.
Dalam hadist Riwayat Ibnu Mardawaih, dari Abu Dzar r.a Nabi dan rasul itu berjumlah 124.000.
Tugas Nabi dan Rasul terdapat dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syuura (43:13) dan Surat Al-Anbiya’ (21: 21-25). (Silahkan buka Al-Qur’an anda ).
Setiap Nabi dan Rasul melanjutkan ajaran Nabi dan Rasul sebelumnya. Dalam Surat  Al-Fathir(35:24) “ Sesungguhnya Kami utus engkau dengan (membawa) kebenaran untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Tidak adalah suatu umat, melainkan telah ada padanya pemberi peringatan. (Nabi dan Rasul )

IMAN KEPADA HARI KIAMAT

Kematian pasti akan datang.
Menurut berbagai sumber kiamat digolongkan menjadi 2(dua) yaitu : Kiamat sugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar).
Kiamat sugra adalah matinya seseorang (keluarnya ruh dari jasad). Jasad manusia yang tersusun dari 4(empat unsur; tanah,air, api, udara) dengan kehendak Allah menjadi manusia yang ganteng, dan cantik ini apabila ruhnya telah terlepas dari jasad maka akan mati . Ruh yang keluar ini tetap hidup sesuai perjalanan yang telah ditentukan oleh Allah. Apabila amal manusia di dunia itu baik maka akan kembali kepada-Nya dengan sejahtera pula (surga). Demikian pula halnya jika di dunia amal perbuatannya keluar dari hukum-hukum Allah , kembalinya juga seperti apa yang dia perbuat (neraka). Dunia ini ibarat ladang tempat menanam dan menuai sedangkan buahnya nanti di akherat. Hatimu sekarang laksana engkau nanti di akherat, bila sekarang hatimu selalu berkaitan dengan Dzat-Ku demikian pula nanti di akherat laksana hatimu yang sekarang.
Setelah tahu hal tersebut di atas maka mulai sekarang kaitkanlah hatimu selalu kepada Allah.

Kiamat Kubra (Kiamat besar).
Kiamat kubra adalah tergulungnya alam semesta ini, gulung kelir dalam istilah pewayangannya seperti halnya dalam Al-Qur’an Surat Az-Zilzaal (101:1-8) Kesudahan segala rissalah, dan akhirnya kembali semuanya kepada Allah dan sesudah itu Allah sendiri yang tahu ( Allah yang akhir tiada berakhir)

IMAN KEPADA QODLO DAN QODAR ( TAKDIR).

Merupakan kekuasaan dan kehendak Allah sendiri apapun yang terjadi terhadap diri hamba-Nya,
Allah mempunyai HAK VETO (hak mutlak) dan tidak ada makluk apapun dan siapapun yang dapat merubah ketentuan  Allah tanpa izin-Nya. Hal demikian harus benar-benar kita imani. Demikian pula apapun yang terjadi terhadap diri manusia, tentang hidup, mati, rezeki, jodoh,termasuk Rahmat, karunia, petunjuk sesungguhnya semua telah ditentukan oleh Sang Khaliq sendiri. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa, manusia ibarat bayangan di cermin, jadi apa kata yang bercermin . Atau ibarat wayang, tidak bisa bergerak sendiri tanpa dalang, termasuk skenarionya juga terserah dalang. Inilah yang harus kita pahami bersama. Secara dhohir manusia harus berupaya, ihktiar dan berupaya untuk mencapai apa yang menjadi hajad kita. Pada akhirnya apapun yang terjadi di final nanti terserah kembali kepada Allah pula.( La qaula wala quwata ila billah)
Tetapi yakinlah dan selalu husnudzon kepada apa putusan Allah sebab barangkali hal itulah yang sebenarnya baik bagi kita. Allah Maha Rahman dan Maha Rahim. Ketahuilah pada hakekatnya kita belum minta saja Allah sudah memberinya, kita belum berdoa Allah telah mengabulkan kehendak kita, sebelum minta ampun Allah telah mngampuni kepada hamba-Nya yang benar-benar taqwa. Sesungguhnya Allah telah tahu akan hal kita ,tak usah kita meminta kepada-Nya. Ini berlaku terutama kepada hamba-Nya yang hatinya tiada lain kecuali Allah Swt.

KESIMPULAN
Dari penjelasan Rukun Iman di atas , kita sudah punya gambaran atas pertanyaan :Sebenarnya kita ini siapa ?
Ditilik dari asalnya kita ini berasal dari anak Adam. Adam adalah bapak dari segala jasad (tubuh), sedangkan Muhammad adalah bapak dari segala Ruh. Ruh Mohammad sendiri berasal dari ruh Allah.
Kita hidup di dunia nyata ini tidak lama istilahnya hanya “ mampir ngombe” Artinya hanya singgah sebentar untuk minum air, tak seberapa lama minum itu , setelah hilang rasa haus dan dahaga kemudian puas dan cukup. Setelah itu melanjutkan perjalanan yang hendak kita tempuh itu  .Demikian  juga  hidup   kita     di dunia ini  walaupun hanya amat sangat singkat . Bahkan ada beberapa sumber yang menyebutkan dari suatu bentuk perhitungan tertentu menyatakan bahwa hidup kita di dunia ini hanya sekitar 1,44 menit dalam hitungan hari Tuhan. Sebab 1 (satu) harinya Allah sama dengan 1000 tahun hari di dunia ini ( harinya manusia).
Walaupun sangat singkat hidup kita di dunia ini , tetapi mempunyai arti yang amat penting untuk perjalanan hidup selanjutnya yaitu di akherat nanti .
Allah memberikan kesempatan kepada kita  untuk berbuat amal kebajikan , hanya di alam dunia ini saja,  jika sudah di alam kubur dan seterusnya sudah tak bisa lagi berbuat amal kebaikan alias sudah putus segala amalan.
Mengapa di alam dunia ( kita berwujud manusia ; ada jasad, bergerak/hidup dan juga ada Ruhnya) ini tempat ladang kita menanam kebajikan ?
Sebab dalam  alam manusia  (alam insan) jika bisa menjadi manusia sempurna ( insan Kamil ), di sini kita bisa menembus  dari alam 1(satu) sampai dengan 6 (enam) yang disebut dengan penyatuan diri dengan alam ke 7 ( tujuh) /Martabat tujuh .
Masalah martabat tujuh kita bahas dalam bab tersendiri yang menyangkut dengan TAJJALI DZAT).
Dalam alam insan manusia sempurna ( INSAN KAMIL) MAMPU MEMASUKI SEMUA ALAM TADI DENGAN KEBASYIRAN HAQ.
Apabila kita berhasil di alam dunia ini dengan penggalian yang mendalam, antara lain dengan sangat hati-hati dalam berkiprah keduniaan yaitu menghindari larangan-larangan Allah dan melaksanakan sekuat-kuatnya perintah-Nya. Insya Allah kita mampu menembus semua alam tadi dengan mata keyakinan. Dengan bekal  SELEMBAR KAIN HALUS SEBAGAI PENGIKAT KEIMANANMU [( Sumpah hati untuk janji setia kepada Allah / Bai’at )] ( samar). DEMI CAHAYA ILLAHI DAN KECINTAAN KEPADA-NYA MAKA PELIHARALAH MAKANANMU DEMI KESUCIANMU. ( Apa yang kita makan harus berasal dari sumber yang halal , demikian pula bentuk makanan juga harus yang halal) Artinya bukan khamar, bukan daging babi, darah ataupun bangkai.

Sekarang kita sudah tahu sebenarnya kita ini siapa ? ,  Dari mana ? ,  Untuk apa ? ,
Semua telah terjawab dengan jelas.
Bahwa kita ini sebenarnya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tidak ada apa-apanya, artinya kita ini sangat kecil , lemah tidak berdaya sama sekali dibanding kebesaran Allah.
Kita dari mana ? Secara dhohir kita berasal dari setetes air mani yang sangat hina, bahkan sangat menjijikkan.Secara hakekatnya Bapak Ruh kita dari Ruh Muhammad, sedangkan Bapak tubuh kita dari Adam .
Tetapi setelah menjadi manusia ,banyak yang menjadi penantang yang nyata. Tidak demikian seharusnya manusia yang tahu akan dirinya.

Keberadaan kita ini untuk apa ?
Jelas bagi kita bahwa kita tahu asal diri kita ini. Sedang hidup kita juga jelas , tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk berbakti kepada Sang Pencipta.( Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku )
Apapun yang kita lakukan hanya untuk Allah ; Sesungguhnya hidupku , matiku, shalatku, ibadahku, puasaku, hanya untuk Allah semata.
Jadi perbuatan yang kita lakukan itu harus dengan ikhlas , hanya untuk mencari ridho Allah bukan untuk di wah orang, bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk…….., bukan untuk ….., bukan untuk ……, dan bukan untuk apa-apa , atau siapa-siapa kecuali hanya untuk Allah Sang Pencipta .
Tiada lain selain Allah semata , itulah  tujuan akhir dari perjalanan hidup ini.
Mudah-mudahan pembaca sekalian, didalam hati kita ini benar-benar mencintai  Allah dan Allah menetapkan kecintaan-Nya kepada kita pula.Amin.
           
                          
       BAB    III

BEKAL DALAM MENEMPUH KESUCIAN BATIN

JALAN KESUCIAN BATIN
Untuk mendapatkan kesucian batin seorang salik harus membersihkan diri dulu dari segi lahiriahnya  Kesucian lahir yaitu kita selalu dalam keadaan wudhu.
Keutamaan wudhu Hadist mengatakan : Barang siapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian bersembahyang dua rakaat dan ia tidak berbicara sedikitpun tentang duniawi selama itu maka ia akan keluar dari dosa-dosa seperti ia dilahirkan oleh ibunya.

Sabda Nabi : Barang siapa yang dzikir kepada Allah ketika wudhunya, maka Allah akan mensucikan seluruhnya, dan barang siapa tidak dzikir kepada Allah, maka Allah tidak mensucikan dirinya kecuali apa yang terkena air.
Barang siapa yang wudhu dalam keadaan masih suci, maka Allah akan menulis untuknya  dengan wudhu itu 10 kebaikan.
 Wudhu di atas wudhu yang lain adalah cahaya di atas cahaya yang lain, semua ini untuk memperbaiki wudhu.
Orang yang suci adalah seperti orang berpuasa, ASHADUALA ILAHA ILALLAHU WAHDAHULA SYARIKALAHU WAASHADU ANNA MUHAMMADAN AB’DUHU WARASULUHU,  lalu menengadahkan tangan serta pandangannya ke langit setelah wudhu.
Lalu shalatlah sunat wudhu 2(dua) rakaat sebelum shalat wajib, maupun shalat sunat lainnya, karena ini sangat utama. Menurut cerita, Rasulullah bertanya kepada Bilal, perihal amalan apa sehingga bunyi trumpah Bilal terdengar di depan kamar Nabi ketika di surga. Bilal menjawab : Saya selalu melaksanakan sholat sunat wudhu 2 (dua) rakaat sehabis wudhu.
Jika kita tahu keutamaan seperti itu mengapa tidak kita lakukan seperti yang dilakukan Bilal ?

Kesucian batin kita tempuh  dengan jalan :

1.    Taubatan Nasyukha , yaitu kita benar-benar minta ampun kepada Allah . Biasanya penyerahan diri secara penuh kepada Allah dilakukan pada waktu tengah malam setelah shalat tahajud. Bila Allah telah mencuci hati kita  dan mengampuni dosa-dosa kita, kaca hati kita telah menjadi bening karena sifat “Qudus Allah” akan terpancar kedalam hati hamba-Nya yang benar-benar telah suci.
2.    Berlaku Wara’ , yaitu berjaga-jaga diri , menjauh dari segala sub’hat dan haram. Biasanya orang-orang yang dalam dirinya masih banyak makanan maupun perbuatan haram , perlakuannya cenderung tamak dan rakus dan sulit untuk mengendalikan dirinya . Yang haram harus benar-benar kita tinggalkan, sedang yang  ragu ( sub’hat) saja kita harus tinggalkan .
3.    Tawakal .( Mengandalkan segala sesuatu hanya kepada Allah ) Mengapa tawakal merupakan hal yang sangat penting dalam usaha pencapaian kesucian batin ? Karena Allah mencintai dan mencukupkan segala keperluan hambanya yang tawakal kepada Allah. Sebagaimana perintah Allah dalam  Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 23 dan Surat Al-Furqaan ayat 58 , Setelah dua ayat perintah-Nya tadi kita laksanakan, maka kita akan dicintai dan dicukupi seperti halnya tertera dalam Al-Qur’an Surat Ath-Thalaq ( 65:3 ) “ Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah , niscaya Allah akan mencukupkan ( keperluan) nya”.    Surat Ali Imran ( 3: 159 )  “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”.
4.    Puasa . Orang yang taqwa kepada Allah selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya tak terkecuali perintah puasa. Baik puasa wajib  pada bualan Ramadhan maupun puasa-puasa sunat . perintah puasa ini tidak hanya berlaku kepada kita saja , bahkan berlaku pula kepada orang-orang terdahulu . Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat  Al-Baqarah (2: 183 ) “ Hai orang-orang yang beriman diperlukan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diperlukan atas orang-orang yang sebelum kamu; mudah-mudahan kamu bertaqwa.
Berpuasa ( lapar ) juga untuk mencairkan gajih hati dimana terdapat kelembutannya dan ia adalah kunci mukhasyafah sebagaimana kekerasan hati menimbulkan hijab. “sempitkan jalannya setan dengan lapar “
Nabi Isa a.s berkata : Laparkan perutmu barangkali engkau melihat Tuhanmu.
Sahl r.a berkata : Abdaal tidak bisa menjadi Abdaal kecuali dengan 4 (empat) perkara; *Mengempiskan perut, tidak tidur malam hari, diam tidak bicara, dan mengasingkan diri dari      orang lain.
Lapar membantu untuk tidak tidur di malam hari, dan saling menguatkan dalam menerangi hati sebaliknya tidur membuat hati menjadi beku, keras dan mematikannya, kecuali sekedar keperluan / kebutuhan.
Perangilah nafsumu dengan lapar dan haus, dan tiada amal yang lebih disukai Allah Ta’ala dari lapar dan haus. 
Pada hakekatnya puasa  itu ada 3 (tiga) derajat
·         Puasa  Umum è Menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat.
·         Puasa Khusus è Mencegah lisan, pendengaran, tangan serta anggota tubuh dari dosa.
·         Puasa Khusus dari yang khusus è Puasa hati dari kemauan-kemauan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta mencegahnya dari selain Allah secara keseluruhan.
Selain itu harus menghindari 5 (lima) perkara yang merusak hakekat puasa, antara lain ; Dosta, ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), sumpah dusta, pandangan dengan syahwat.
     Sabda Nabi : Tidak akan masuk kerajaan surga siapa yang memenuhi perutnya. Yang terbaik diantara kamu kedudukannya di sisi Allah Ta'ala adalah yang paling lama laparnya dan paling lama berpikirnya, sedang yang paling dibenci Allah Ta’ala diantara kamu adalah setiap orang yang terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan dan minum. Siapa yang sedikit makan sedikit pula penyakitnya.
Rasulullah bersabda : Sebaik- baik puasa adalah puasa saudaraku Dawud, yaitu lapar sehari dan kenyang sehari. “ Aku  bersyukur kepada-Mu bila aku kenyang dan memohon dengan rendah diri kepada-Mu bila aku lapar “

 Puasa Sunat yang besar pahalanya.
1.  Puasa Hari Senin dan Kamis.
2. Yang namanya Puasa Sud à Yaitu puasa ketika saat bulan Purnama, Puasanya hanya dalam 3 (tiga) hari, bersamaan mulai tanggal ke 13, 14, 15 terakhirnya.
3. Yang namanya puasa Siwat à Yaitu puasa ketika tanggal Bulan Gelap. Puasanya hanya 3 (tiga) hari terutama dimulai tanggal ke 28, 29, 30 terakhirnya.
4.  Puasa di bulan Muharam à Yaitu bersamaan tanggal ke 9, 10, yaitu bernama Asyura. Bila puasanya dimulai pada tanggal awal (pertama) itu lebih utama .
5.  Puasa pada bulan Rajab à Yaitu sebisanya yang penting dapat terlaksana, yaitu di mulai tanggal awal (pertama) sampai tanggal 30 (tiga puluh) itu utama sekali dan besar pahalanya.
6.   Puasa di bulan syakban  à  di mulai tanggal pertama sampai NISMUSYAKBAN. Jumlahnya 45 (empat lima) hari didalam dua bulan yaitu Rajab  dan Syakban.
7.  Puasa  di bulan syawal à di mulai dari tanggal 2 (dua) sampai tanggal ke 7 (tujuh), selesai bersamaan hari  raya ketupat.
8.  Puasa di bulan Dzulhijah à  bersamaan tanggal ke 8  (delapan) namanya Tarwiyah  dan tanggal ke 9 (sembilan) namanya ‘arsafat , dan selesainya tanggal ke 10 (sepuluh) namanya Nashar, jadi puasanya hanya 2 (dua) hari, terutama apabila dimulai tanggal pertama.

 
5.    Berlaku Zuhud ( menjauhi kesenangan kenikmatan dunia ). Bukan berarti kita harus menyiksa diri kita untuk tidak melakukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi kita makan, minum, nikah,tempat tinggal, kendaraan serta segala kebutuhan itu kecuali sekedar yang kita perlukan untuk menegakkan badan dan menghidupi kita. Inilah zuhud yang hakiki.  Untuk berlaku zuhud pertama-tama harus berperang melawan nafsu yaitu berusaha meninggalkan yang kita sukai. Bila kita paksakan lama-lama berlangsung terus hingga kita mencapai zuhud. Zuhud yang tertinggi yaitu orang yang berlaku zuhud dengan suka rela dan  tidak merasakan zuhudnya, karena ia tidak menganggap bahwa ia meninggalkan sesuatu karena ia tahu bahwa dunia bukan apa-apa.
6.    Menjauhkan lambung dari tempat tidur  ( melek ). Jangan terlalu banyak tidur, kecuali sekedar kebutuhan , sebab raga kita juga mempunyai hak untuk istirahat, maka berikanlah hak atas haknya masing-masing. Tetapi kalau terlalu banyak tidur membuat hati kita beku dan tidak mau berfikir, hati menjadi bebal serta sulit untuk mendapatkan rasman (gambaran) kebasyiran Haq.
Tafakkur ( Merenung, menyendiri berdzikir sambil beribadah) . Anjuran untuk berfikir, merenung, memeriksa dan mengambil pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat dan khabar-khabar, Karena itu semua adalah kunci pembuka cahaya-cahaya dan awal datangnya pertolongan serta penjaringan ilmu. Ketahuilah , majelis yang termulia dan tertinggi adalah duduk sambil memikirkan tentang medan tauhid dan menghirup angin makrifat serta minum dengan piala cinta lautan kasih sayang dan memandang dengan baik sangka kepada Allah Ta’ala.Tujuan dari tafakur adalah menghasilkan ilmu di dalam hatinya sehingga menimbulkan keindahan dan perbuatan yang menyebabkan keselamatannya dan keduanya adalah buah ilmu, sedangkan ILMU ADALAH BUAH TAFAKUR. 
7.    Diam ( Berbicara seperlunya ) Kebanyakan kita tergelincir dari pembicaraan yang tidak bermanfaat, sering tidak kita sadari bahwa apa yang kita bicarakan ternyata ghibah dan namimah . Oleh karenanya apabila kita tidak berkepentingan dan tidak ada gunanya lebih baik kita diam. Mari kita sadari bahwa mengadu domba dan menggunjing / menjelekkan orang lain adalah dosa. Berhati-hatilah dengan lidah kita, sebab lidah bisa lebih tajam dari pada pedang.

Dengan bekal beberapa jalan menuju kesucian batin tersebut di atas mudah-mudahan menghasilkan sikap dan sifat kita menjadi jujur, luhur, suci dan sabar, sehingga mempermudah jalan kita menuju Allah Swt.

Orang yang mendapatkan kemuliaan di sisi Allah ada 2 (dua) macam yaitu :
1.    Seorang Ab’rar : Mereka yang masih banyak berkepentingan di dunia, disamping taat kepada Allah, golongan ini disebut ZAHID ABBID. Mereka berbuat dan beramal karena Allah. Amal orang-orang Ab’rar disebut AMAL LILLAH.
2.    Seorang Muqorrobin : Mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, hanya ibadat kepada Tuhan dan hanya mengharap Ridho Allah semata, golongan ini disebut ARIF MUHIBBIN. Orang-orang ARIF MUHIBBIN beramal dengan bantuan Allah , amal-amal mereka disebut AMAL BILLAHI.
 
B A B    IV    JALAN MENUJU ALLAH

 MENCARI  JALAN KEBENARAN

Ada 4 (empat) golongan dalam mencari kebenaran ( Dinukil dari Munqidz Minadhdhalal –Al-Ghozali) :

1.    Al-Mutakallimin (ahli ilmu Kalam).

Mereka ahli pikir dan penyelidik.
Salah satu apa yang dilakukan oleh ahli ilmu kalam Rasulullah sempat marah kepada sahabat saat sahabat diskusi mengenai qodar (takdir). Dengan nada marah beliau bersabda : “ Wahai kaumku !! Karena hal inilah umatku terdahulu menemui kesesatan, karena perselisihan antara Nabi-nabi mereka, dan memperdebatkan Al-Kitab antara bagian yang satu dengan yang lainnya . Sedang Al-Qur’an diturunkan bukan untuk diperdebatkan bagian-bagiannya, tetapi untuk menunjang kebenaran bagian-bagian yang satu dengan yang lainnya. Maka hendaklah kamu kerjakan dan kamu amalkan , dan yang kurang jelas pengertiannya bagimu maka hendaklah engkau beriman dengannya.

Karena itu Bani Israil terpecah menjadi 70 (tujuh puluh) golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan umat Muhammad terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Mereka semua akan tersesat kecuali AS-SAWAADUL –A’ZHAM  (golongan terbesar).
Ya Rasulullah siapakah As-Sawaadul-A’zham itu ? Nabi menjawab : “ Mereka yang mengikuti sunahku dan sahabatku.” Kemudian Nabi melanjutkansabdanya : “ Sesungguhnya agama Islam itu asing pada mulanya dan akan kembali asing “
Maka bahagialah orang-orang asing itu. Mereka bertanya : “ Siapakah orang-orang asing itu Ya Rasulullah ? “  Nabi menjawab : “ Mereka berbuat baik ketika orang lain berbuat kerusakan, dan tidak suka berdebat dalam agama Allah .

Kesimpulan .
Hendaklah anda mendengarkan dari pada orang yang berpengalaman tentang ilmu kalam, lalu meninggalkan setelah berpengalaman dan menekuni hingga tingkat tinggi dari ilmu kalam itu.
Tenyata ilmu kalam bukan tujuan terjauh dan memastikan bahwa jalan menuju kebenaran-kebenaran pengetahuan tertutup. ( KAFIR).


2 . Al-Falasifah ( Ahli ilmu Filsafat ).

Mereka ahli mantik (logika) dan ahli burham (mengajukan bukti). Dalam ilmu Filsafat terdapat tipu daya , kesamaran, juga ada keyakinan dan penghayalan. Ilmu mereka terdiri dari bermacam-macam  dan beberapa bagian.

Kesimpulan :
Maka para filosof itu diantaranya mayoritas mereka tergolong orang-prang kafir dan mulhid (yaitu orang-orang ingkar pada agama dan Tuhan). Sekalipun terdapat perbedaan yang menyolok dalam jauh dan dekatnya dari kebenaran diantara ulama-ulama terdahulu dan yang kemudian.

3 .  Al-Batiniah (Jalan pengajaran ilmu batin ). 

Orang yang mendapat kekhususan untuk mendapat petunjuk dari Al-Imam  Al-Makshum (tersuci dari kesalahan).
Siapa yang menjernihkan batinnya dengan pengawasan dan keikhlasan pasti Allah akan menghiasi lahirnya dengan  perjuangan dan pengalaman.
Disini juga tidak ditemukan kebenaran. Maka sungguh mengherankan , jika ada orang yang telah letih dan menyia-nyiakan usia dalam mencari ilmu, lalu merasa puas dengan ilmu yang lemah itu, karena disangkanya ia telah beroleh tujuan terjauh dari ilmu tersebut. Mereka itulah yang Kami uji lahir maupun batin nya.
Sebenarnya tujuanku hanya itu saja karena telah diketahui jika lebih dari itu pasti akan terlihat keburukannya, hingga tak kan mampu menguraikan apapun kerumitannya, juga tak mampu memahaminya terlebih lagi menjawabnya.





4 . Para Sufiah ( Jalan Tashauf).

Setelah selesai membahas ilmu-ilmu itu , dengan penuh kesungguhan kubahas jalan para Sufi . Maka akupun dapat mengetahui bahwa hanya dengan ilmu dan amalanlah jalan mereka bisa terlaksana. Buah amalan mereka adalah memutuskan segala hambatan nafsu dan menyucikan akhlak yang tercela serta semua sifat jahat. Dengan cara itu manusia bisa sampai pada pengosongan hati dari selain Allah Ta’ala dan mengisinya dengan dzikir pada Allah .
Bagi kita ilmu itu lebih mudah dari pada amalan. Maka pada saat ini kita siarkan ilmu tanpa bermaksud mencari kedudukan. Itulah tujuan kita sekarang. Tetapi Allah yang lebih mengetahui semua yang ada di hati kita.
Yang kita inginkan adalah memperbaiki diri kita juga orang lain. Namun kita tak tahu apakah kita bisa mencapai tujuan itu, atau sebelum keinginan itu tercapai lalu kita telah meninggal? Namun kita beriman dengan keimanan yang penuh dan penyaksian, bahwa tiada daya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dimana tidak mungkin kita bergerak jika bukan Dia yang menggerakkan. Dan tidak mungkin kita beramal tetapi Dialah yang menyebabkan kita beramal. Kita pun memohon agar Dia menjadikan kita sebagai seorang yang baik lebih dulu, barulah ( dengan perantaara kita) Dia menjadikan orang lain sebagai makhluk yang baik. Juga menganugerahi kita petunjuk, kemudian kita memberi petunjuk kepada orang lain, dan memperlihatkan kepada kita bahwa kebenaran itu benar dan menjadikan kita pengikutnya sedang kebatilan itu batil dan menghindarkan kita darinya.
Dari 4 (empat ) jalan yang dikemukakan  Al-Imam Ghozali tersebut tentu kita memilih yang paling benar yaitu Jalan para Sufi ( Tashauf).


Tashauf

Dengan Tashauf itulah kita bisa mengamalkan Tauhid yang benar. Adapun caranya adalah “Kejernihan Hati”  Sedangkan tujuannya adalah Musyahaadah ( Penyaksian ).
Tashauf adalah orang yang hati sanubarinya dijernihkan oleh Tuhannya dan telah dipenuhi dengan cahaya. Orang yang merasakan kenikmatan dengan dzikir Allah. Jika engkau dilalaikan dengan dirimu dan dihidupkan oleh-Nya. Orang yang dapat memusatkan jiwa dalam beribadah dan keluar dari kemanusiaan serta memandang pada Al-Haq secara menyeluruh.

Firman Allah : “ Hamba-Ku, jadikanlah perhatianmu seratus persen pada-Ku, niscaya Aku cukupi segala hajad kepentinganmu (kebutuhanmu). Selama Aku dengan ,engkau, engkau dalam kedudukan hamba , dan selama engkau dengan Aku , maka engkau ditempat yang dekat, mintalah apa saja untuk dirimu.
HAI ANAK ADAM !!! aku jadikan segala sesuatu untukmu, dan Aku jadikan engkau untuk-Ku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau jadikan untuk-Nya.

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu,pohon besar, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa Rahmat,Taufik Hidayah dan Karunia Allah. Sedang kita harus tauladani Nabi Solaiman as ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana RATU BALGIS.

FIRMAN ALLAH (Surat An-Namal 40) Bunyinya: “ Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah bersyukur/ terima kasih ataukah kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur maka syukur itu untuk dirinya, dan siapa yang khufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya  lagi Pemurah ( tidak berhajad sedikitpun dari makhlukNya, bahkan makhluk yang berhjad kepada-Nya ).
Allah kasih sayang kepada hamba-Nya yang taqwa , yang tersembunyi (tidak terkenal) yang bila tidak ada tidak dicari , dan bila hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka sebagai pelita hidayah, mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.

Allah memberi bimbingan kepada Nabi Daud as untuk melakukan akhlak yang terpuji. Mengucapkan kata-kata yang lemah lembut, manis, tenang dan memberi  manfaat kepada manusia, dan dapat membangkitkan rasa kasih sayang dan kemanusiaan yang tinggi, jangan kasar sembrono atau sombong. Kalimat yang baik-baik bagaikan pohon yang subur akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya subur setiap musim.

Barang siapa memalingkan kemauannya untuk mengikuti kelezatan badani , makan seperti binatang, maka sesungguhnya ia telah terperosok  ke lembah tingkatan binatang. Sehingga ia ceroboh seperti lembu, serakah seperti babi, buas seperti anjing, dengki seperti onta, sombong seperti harimau, suka menipu seperti musang, dan sifat-sifat di atas berkumpul pada dirinya maka ia seperti syaitan yang gemar memperdaya.
Barang siapa membela kehormatan saudaranya yang tidak hadir, maka Allah Ta’ala pasti akan membela kehormatannya dihari kiamat.
Barang siapa tidak melakukan perdebatan sedang ia dalam keadaan benar maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga yang paling atas.
Sejahat-jahat umatku adalah orang-orang yang diberi kenikmatan memakan berbagi macam makanan dan memakai berbagai macam baju serta berlebih-lebihan disaat bicara. ( Sabda Nabi ).


Berilah makan sebarkanlah salam, berbicara dengan baik, lakukanlah shalat malam disaat orang-orang tidur nyenyak, niscaya engkau dapat masuk surga dengan sejahtera.
Kasihanilah anak yatim dan berikan pakaian pada orang yang tidak berpakaian, dan berilah makan pada orang yang lapar, dan hormatilah tamu dan orang ghorib (rantau), semoga dengan begitu anda diterima oleh Allah. Dan perbanyaklah dzikir, jangan sampai termasuk golongan orang yang lalai disisi Allah.
Ketahuilah satu rakaat diwaktu malam lebih baik dari seribu rakaat di waktu siang, dan jangan mengejek bala’ / musibah yang menimpa seseorang.
Jangan berkata ghibah dan namimah (menyebut kejelekan orang atau mengadu domba antara seorang dengan yang lain ).
Jangan membalas , mengganggu orang yang mengganggumu.
Dan maafkanlah orang yang aniaya padamu.
Dan berilah orang yang bakil padamu.
Dan berlaku baik pada orang yang jahat padamu.
Dan sebaik-baik manusia akhlak budi pekertinya ialah yang sempurna imannya.
Dan siapa tidak berilmu, maka tidak berharga di dunia dan akherat.
Dan siapa tidak sabar tidak berguna ilmunya.
Siapa yang tidak loman (dermawan) tidak mendapat keuntungan dari kekayaannya.
Siapa tidak sayang sesama manusia , tidak mendapat hak syafaat disisi Allah.
Dan siapa memiliki sifat-sifat ini tidak mendapat tempat di surga. Berdzikirlah kepada Allah dengan hati yang hadir ( khusu’) dan berhati-hati dari pada lalai, sebab lalai itu menyebabkan hati beku.
Dan serahkan dirimu pada Allah, dan relakan hatimu menerima bala’ ujian sebagaimana kegembiraanmu ketika menerima nikmat , dan kalahkan hawa nafsu dengan meninggalkan syahwat.

FIRMAN ALLAH ; “ Apabila Aku menguji hambaku yang beriman , kemudian ia tidak mengeluh kepada pengujung-pengujungnya, maka Aku lepaskan  ia dari ikatan-Ku, dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaiki amal, sebab  yang telah lalu telah diampuni semua.”

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk makrifat ( jalan menuju kepada-Nya) maka jangan hiraukan soal amalmu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu melainkan Ia akan memperkenalkan diri padamu. Tidakkah kau ketahui bahwa makrifat itu semata-mata pemberian kerunia Allah kepadamu, sedang amal perbuatanmu hadiah dari padamu, maka dimanakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu ?

Makrifat ( mengenal) Allah itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya, maka tidak usah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmu meskipun masih sangat sedikit amal kebaikanmu, sebab makrifat itu suatu karunia pemberian langsung dari Allah. Maka sekali-sekali tidak tergantung kepada banyak sedikitnya amal kebaikan.

Ketika seorang sufi ditanya : Dengan jalan apa tuan mencapai makrifat ? Yang dijawab eleh beliau : Aku mencapai makrifat dengan karunia Tuhanku. Dan jikalau bukan karena karunia dari Tuhanku maka akupun tidak memperoleh makrifat. 

Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu, engkau tidak dapat sampai ketingkat yang  Aku berikan padamu, maka dengan bala’ itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan disisi Allah.
Karena itu setiap orang saleh yang menuju ke suatu maqom (tingkat) harus mengerti dalam ibadat yang mana ia rasakan nikmat ibadat, maka disitulah akan terbuka baginya apakah dalam sembahyang, puasa dan lain-lainnya.

Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruhnya (jiwanya) ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu.
Perrbaikilah amal perbuatanmu dengan iklas, dan perbaikilah keiklasanmu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah Ta’ala.

Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan , sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.

Tiadalah sesuatu yang lebih bahaya bagi seorang yang beramal , dari pada menginginkan kedudukan dan terkenal ditengah-tengah masyrakat pergaulan. Dan ini merupakan keinginan hawa nafsu yang utama.
Siapa yang merendahkan diri maka Allah akan memuliakannya, maka siapa yang sombong ( besar diri ) maka Allah akan menghinanya.

Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah siapa yang ingin mashur ( terkenal ).
Demi Allah , tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh iklas kepada Allah melainkan ia merasa senang , gembira, juga ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.

“Apabila Aku melihat hati hamba-Ku, tidak ada padanya cinta dunia dan akherat, niscaya Aku penuhi hati itu dengan cinta kepada-Ku.
(kepada Nabi Dawud) : “ Hai Dawud !!! Sungguh Aku telah mengharamklan cinta-Ku untuk masuk kedalam hati dimana dalam hati itu ada cinta kepada lain-Ku.

Hai …….!! Bagaimana caramu menyembah Allah Swt ?
Jawab : Tuhanku menyuruh dengan keadilan untuk menghadapkan mukaku lurus-lurus tiap-tiap sembahyang, dan selalu minta kepada-Nya serta mengiklaskan agamaku ( mengiklaskan peraturan hidup bagi diriku) kepada-Nya. Sebagaimana Allah telah memulai kejadianku, begitu pula saat aku kembali kepada-Nya nanti ( Al-A'’af 29).

Mintalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dengan suara tersembunyi, sesungguhnya Dia tiada mengasihi orang-orang yang melampoi batas (Al-A’raf 55).

Suatu kisah Nabi Ibrahim ketika akan dilempar kedalam api , beliau didatangi Jibril dan ditanya: Apa ada hajad ?
Jawabnya; Kepadamu tidak.
Dan kepada Allah ?            Ya.                       Jika demikian mintalah kepada Allah.
Jawab Ibrahim : HASBI MIN SU-ALI ILMUHU BILLAHI (cukup bagiku Ia mengetahui akan halku sehingga saya tidak usah minta kepada-Nya.
Hal ini hampir sama kejadiannya dengan Nabi Musa , saat rindu ingin melihat Allah ia berkata : ROBBI ARINI ANDUR ILAIKA . Dan ketika berhajad roti Nabi Musa berdo’a : ROBBI ‘INNI LIMA ANZALTA ILLA MIN KHOIRI FAQIRUN. ( Ya Tuhan, sungguh aku terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat berhajad)
YA NARUKUNII BARDAN WASSALAMA ‘ALA IBRAHIM /…… ( Hai api , hendaklah engkau menjadi dingin dan selamat terhadap Ibrahim/ ….)
Ini selamatnya Nabi Ibrahim ketika dibakar oleh orang-orang kafir.
 
Sabda Nabi: “ Orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasahi dirinya ketika ia marah. Tidaklah seseorang marah melainkan ia mendekati jahanam.

Nabi Musa bertanya kepada Iblis : “ Apa perbuatan manusia sehingga engkau dapat menguasai manusia hai iblis ?
Iblis menjawab : “ Apabila  ia merasa kagum pada dirinya dan merasa banyak amalnya serta melupakan dosa-dosanya.”
Apabila seorang hamba tidak jemu menyebut Asma Allah maka tidak ada kesempatan syaitan menguasai manusia.

Firman Allah : “ Sesungguhnya Aku mengangkat kekasih-Ku dari orang yang tidak jemu menyebut nama-Ku dan tiada baginya selain Aku, ia tidak mengutamakan makhluk-Ku di atas Aku.

Hai hamba !!! Jika dirimu menantang maka laporkanlah tantangannya kepada-Ku.
Hamba-hamba-Ku yang sebenar-sebenarnya ialah yang tetap berdzikir kepada-Ku tanpa diselingi oleh kealpaan. Hendaklah engkau jadikan terjemahan , tafsiran dan huruf itu sebagai alat dan kendaraan untuk sampai kepada-Ku yang berupa untaian kata-kata.

“ Sesungguhnya mereka yang bangun pada malam hari, ialah mereka yang menuju kepada-Ku, bukan untuk wirid yang ditentukan maupun bacaan yang dipahami….. disanalah ….. Ku sambut kedatangannya dengan Wajah-Ku, maka iapun berdiri dengan qoyyumiati (berdiri-Ku sendiri) ; tiada pinta , dan tiada apapun yang diajukan pada-Ku, bila Aku hendak bicara padanya, akan Ku-laksanakan; Bila Aku hendak memberi pengertian, Ku-tanamkan pengertian “

Hai Hamba !!! Ahli wirid manakala telah sampai tujuannya , mereka akan berhenti dan menyingkir, dan ahli juzu’ (membaca Al-Qur’an) yang sudah sampai pada batasnya setelah dipelajari , juga akan berhenti dan menyingkir….. Tidak demikian halnya dengan “Ahli-Ku” karena baginya “tidak ada batas lagi” maka bagaimana mereka akan menyingkir ?”
Hai hamba !!  Hendaklah engkau dalam segala hal bersama-Ku saja, niscaya Ku-utus padamu ….. Pada hari bernyata….. suatu tanda dan alamat yang akan meneguhkanmu, maka engkau tidak dikenal akan kengerian dan ketakutan, dan tiada pula digemparkan oleh apa yang mendahsyatkan.

“ Yang berdiri di antara kedua tangan-Ku. Tangannya akan menjulang tinggi atas langit dan bumi, jauh diatas surga dan neraka, maka tidaklah ia akan berpaling menoleh kepada kesemuanya ini, Aku-lah yang akan mencukupinya ….. Tiada dasar makrifatnya kecuali di atas landasan-Ku, dan tiada ilmu pengetahuan serta renungan hatinya melainkan berkisar antara kedua tanmgan-Ku”
“ Rumahmu di akherat kelak yang dari pada-Ku laksana hatimu sekarang di dunia ini dari pada –Ku.”

Engkau telah mengenal-Ku, dan mengenal ayat-ayat-Ku, barang siapa yang telah mengenal ayat—ayat-Ku, maka iapun telah bebas lepas dari tanggungan alasan apapun.
Bila engkau sedang, duduk jadikanlah ayat-ayat-Ku berdiri di sekitarmu. Yang dimaksud ayat adalah ‘ KALIMAT TAUHID’ èinahu laillaha ilallah (Sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah ). Zainal Abidin meriwayatkan hadist Qutsi ini  LAILAHA ILALLAH itu adalah BENTENG-KU. Siapa yang mengucapkan berarti telah memasuki benteng-Ku. Dan siapa yang memasuki benteng-Ku, niscaya aman dari adzab siksa-Ku.

Penyaksian adalah derajat makrifat tertinggi dan merupakan tujuan akhir, yang dikejar oleh orang-orang yang memilih perasaan yang halus berfitrah kemalaikatan dan pribadi-pribadi mulia.
Al-Musyahaadah (penyaksian ) adalah tujuan akhir kaum sufi yaitu : “ASHADU ALA ILAHA ILALLAH.” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah). Prinsip jalan sufi adalah Al-Maqomat Wal Ahwal ( kedudukan dan keadaan).
Tashauf bukan suatu bentuk atau ilmu, tetapi moral. Karena jika tashauf itu merupakan suatu bentuk, tentu bisa dicapai dengan perjuangan. Begitu juga jika tashauf itu suatu ilmu tentu bisa dicapai dengan perjuangan, dan belajar. Namun tashauf adalah berakhlak dengan akhlak Allah dan akhlak Illahi tidak bisa dicapai dengan ilmu.

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah tiada seorangpun   yang  dapat  nenyesatkan,  dan  barang  siapa yang  akan di sesatkan  oleh  Allah tiada  seorangpun  yang dapat menunjukinya.

Cukuplah Allah sebagai  penolong  kami  dan  Allah  adalah sebaik – baiknya  pelindung. Siapa yang di beri lalu  bersyukur,  dan di uji  lalu  bersabar, dan di aniaya lalu memaafkan dan  berdosa  lalu minta  ampun, merekalah  yang pasti mendapatkan kesejahteraan dan  merekalah  orang  yang  mendapat petunjuk hidayah Allah.

Tauhid  yang  murni adalah  hamba  tidak  melihat  sesuatu  kecuali  Allah  Ta’ala.
 Wahai  Allah sesungguhnya  saya  mohon  ampun kepada engkau karena  kezaliman  dan  kekufuranku. Sesungguhnya manusia  itu  sangat dzalim dan  sangat  mengingkari ( Ibrahim ;34 )

Orang – orang yang sholeh tidak perlu mempelajari ilmu – ilmu sihir atau ilmu ghoib, pemagar  diri  dan tidak perlu mempercayai  tukang – tukang sihir,  tenung dan tukang  ramal, mengetahui nasib. Dia  keramat  itu  telah  beroleh dari  pada anugrah Tuhan. Karena di  dekat  dengan Tuhan. Dengan  jalan  mensuci  bersihkan  jiwanya dari  pada  sifat – sifat  yang  tercela dan  mengisinya dengan sifat – sifat  terpuji. ( Hamka )
  
Hijab  yang  menghalangi hati melihat  kepada lauhin Mahfudz menurut kaum sufi adalah  dosa – dosa yang  manakala  di lakukan ia datang  kedepan   kaca  mata  hati sehingga  kaca  hati  itu  tidak  dapat  menangkap  apa yang  ada  pada  lauhin Mahfuz. Gambaran – gambaran yang  ada  pada  Lauhin  Mahfuz  tidak  dapat lagi  di tangkap dan  di simpan  kaca  hati. 

Kita menuju kepada Allah dengan Karunia Allah sendiri. Adapun kunci-kunci mukasyafah (terbukanya hijab) dan kebasyiran Haq dengan cara memfanakan diri.

Hadist Qutsi : Orang-orang yang merasa dekat kepada-Ku, tidak hanya melaksanakan apa yang Aku fardhukan kepada mereka, malah si hamba itu merasa dekat kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal Nawafil (tambahan) hingga Aku-pun mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah menjadi pendengarannya yang dengan itulah ia mendengar. Akulah menjadi penglihatannya dan dengan itu ia melihat. Akulah yang menjadi lidahnya , dan dengan itulah ia bicara/ berkata-kata, Aku menjadi tangannya, dan dengan itu dia memegang. Akulah menjadi kakinya dan dengan itu ia berjalan. Dan Aku menjadi hatinya yang dengan itu ia berdhomir (bercita-cita) à Riwayat Imam Bukhori.
Kenalilah Allah dengan layak dan dengan pengenalan yang sempurna agar anda benar-benar dapat merasakan FANA FI SIFATILLAH (Lenyap pada / dalam sifat-sifat Allah ) dan BAQO BI SIFATILLAH (Kekal dengan sifat-sifat Allah). Allah akan memberi tahu kepada anda tentang rahasia-rahasia sifat-Nya yang mulia.
Dan Allah itu mempunyai beberapa rahasia yang diharamkan mengeluarkannya, maka oleh sebab itu jangan sekali-sekali anda buka hal itu.
Turutilah pelajaran syariat bahwa anda tetap menyembunyikan hal-hal tersebut kecuali pada ahlinya.
Tetaplah mengerjakan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala larangan, tetap memelihara adap atau syariat supaya kenikmatan keindahan rahasia itu ada padamu.
Mereka yang mempersiapkan hatinya, sunyi dari yang lain dari pada Allah, meraka yang  menguburkan segala rahasia didalam dadanya sendiri, hal mana tidaklah mereka beritahukan kepada siapapun kecuali yang oleh Allah sendiri memerintahkan agar diberi tahu.

Perlu diingat benar bahwa MAQOM BAQO’ itu , berarti pula kembali melaksanakan dhohir syariat, amar makruf nahi mungkar, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan , yang benar adalah benar yang salah adalah salah, diberikannya apa yang pantas kepada yang berhak menerima pemberian, disempurnakannya segala hak kewajiban sebagaimana mestinya.

Kesimpulan dari Maqom Baqo dinamai pula dengan nama Maqom Tajalli atau Maqom Dhuhur, penguraian seluruhnya dapat disimpulkan dalam 4(empat) kalimat :
1.    Apapun yang kulihat , hanya Allah yang kulihat beserta-Nya.
2.    Apapun yang kulihat, hanya Allah yang kulihat pada-Nya.
3.    Apapun  yang kulihat , hanya Allah yang kulihat sebelum-Nya.
4.    Apapun yang kulihat, hanyalah Allah yang kulihat sesudah-Nya.

Tingkatan Tajalli Zat itu atas 7 (tujuh) tingkat :

1.    Martabat Ahadiyat è Dinamakan pula dengan martabat KUNHI ZAT.
2.    Martabat Wahdah è Disinilah hakekat Nabi Muhammad Saw, yaitu sebagai asal jadi dari segala yang jadi, Hawiyatul alam atau hakekat alam. Mula-mula yang Allah jadikan adalah Nur Nabi Muhammad, dan Allah jadikan segala sesuatu itu dari Nur itu. Dan kita termasuk pada sesuatu itu. Hadist lain Nabi bersabda: “ AKU ADALAH DARI PADA ALLAH, DAN ORANG-ORANG MUKMIN ADALAH DARI PADAKU.” Sesungguhnya Allah ciptakan Ruh Nabi dari pada Dzat-Nya, lalu Allah menciptakan alam dengan rahasianya dari pada Nur Muhammad saw. Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah Nur Nabimu dari pada Nur-Nya.
3.    Martabat Wahidiyah è Pada martabat ini sifat dan Asma terurai . Dari sini lahirnya Kalam Kodim (ucapan Allah  Yang Maha Sedia) Yaitu ‘ ANNAHU ANALLAHU” artinya “SESUNGGUHNYA AKULAH ALLAH”. Aku (Allah) adalah sesuatu perbendaharaan yang tersembunyi ; Lalu Aku berkeinginan supaya  dikenal maka KU-jadikan makhluk (Muhammad) agar dia kenal atau Makrifat kepada-Ku.       Nabi bersabda: “ AKULAH BAPAK ATAU SUMBER DARI SEGALA RUH , DAN ADAM ADALAH SUMBER DARI SEGALA TUBUH ( BASYARIAT).
4.    Alam Arwah è Pada tingkat inilah terhimpun dan terhampar luas segala Ruh yang tidak bersusun-susun.
5.    Alam Mistal è  Pada tingkat ini , ada rupa tetapi tidak dapat dibagi-bagi karena amat halusnya/ berupa atom. ( Atom ilmiahnya berasal dari kata ‘A’ berarti tidak ,  ‘Tom’ berarti dibagi-bagi)   artinya ‘ tidak dapat dibagi-bagi  .“ karena halusnya.
6.    Alam Ajsad è Berupa dan berbentuk dan bisa dibagi-bagi, atau terbagi-bagi.
7.    Alam Insan è Pada tingkat ini terhimpunnya  alam 1 s/d 6  yaitu Arrun ‘iktibary.

Semuanya ini pada umumnya dinamakan MARTABAT TUJUH.
Orang yang dhohir / pada alam insan ini (alam manusia ) kemudian bisa sempurna makrifatnya sampai kepada martabat I (kesatu) maka orang tersebut dapat diberi gelar dengan INSAN KAMIL (Manusia seutuhnya / manusia sempurna ).                                                                                                                                                                    

Sebelum kita tenggelam dalam lautan Rahmat Allah kita harus bertauhid secara haq.
Tauhid adalah suatu keyakinan atau kepercayaan terhadap Allah tentang ke-Esaan-Nya. Untuk mempercayai adanya Tuhan pertama-tama kita diajari oleh orang tua kita atau guru ngaji kita, dari apa yang beliau ceritakan kepada kita akhirnya percaya, lama-lama mendalam dan meyakini yang beliau ajarkan.
Tahapan-tahapan keyakinan adalah sebagai berikut :
·         Ilmu yakin è Adalah keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran yang diajarkan kepada kita.
·         Ainul Yakin è Adalah keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/ terbuka.
·         Haqul Yakin è Adalah keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.
Keyakinan ke 3 (tiga) yaitu  Haqul Yakin inilah yang sangat kita harapkan. Karena ini adalah benar-benar Karunia dari Allah Swt dan sifatnya sangat divine (pribadi, dan tidak semua orang mendapat karunia yang seperti ini). Marilah kita banyak bersyukur kepada Allah agar nikmat yang diberikan oleh Allah selalu ditambah. Amin Ya robbal alamin.

Tahapan jalan menuju Allah adalah kita ambil langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Shalat dan Sujud .
2.    Dzikir.
3.    Do’a
4.    Fana .

Selain rukun-rukun Islam yang lain, Shalat dan sujud menempati derajad yang sangat tinggi, karena merupakan tiang agama. Demikian pula nanti amal yang pertama kali diperiksa adalah shalat kita. Apabila shalat kita sempurna , tanpa ditanya lagi amal yang lain alias lolos dari hisab.
Mengenai keutamaan sujud , Rasulullah bersabda : “ Tidaklah manusia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang lebih utama dari pada sujud yang tersembunyi.”
“Hendaklah engkau memperbanyak sujud ,karena jika engkau bersujud demi Allah dengan sekali sujud niscaya Allah menaikkan engkau dengan satu derajat , dan menghapus satu dosa darimu”. Sujud yang dimaksud Rasulullah Saw dalam hadist ini bukan sekedar gerakan yang telah kita kenal itu, tetapi juga mempunyai makna yang dalam.
Firman Allah yang menyatakan agar kita bersujud terdapat dalam Al-Qur’an antara lain surat :( Al-Alaq 96:19), (As-Sajdah 32:15), (Maryam 19:58),(Al-Furqon 25:64),(Al-Araf 7: 206),(An-Nahl 16:49),(Al-Izra’  17:107),(Al-Haj 22:18dan 77),(Al-Furqon 25:60),(An-Naml 27:25),(shaad 38:24),(Fushishlat / Haamiim As-Sajdah 41:37),(An-Najm 53:62),(Al-Insyiqoq 84:21),(Ar-Ra’du 13:15)  Semoga kita termasuk orang yang selalu sujud kepada Allah tanpa putus-putus, Amin.

Dzikir.
Apabila kita telah selesai shalat,ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring. Itulah hakekat Dzikir, yang dilakukan terus menerus setiap nafas kita. Karena nafas kita ini merupakan titipan wadah yang harus diisi dengan dzikir kepada Allah . Hak Ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang harus dilakukan oleh hamba.
-          “  Jika ia dzikir kepada-Ku dalam hati, Aku ingat padanya dalam dzat-Ku.”
-          “ Jika ia dzikir pada-Ku dimuka umum Aku ingati dia dalam umum yang lebih baik dari golongannya. Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku selalu mendampinginya, selama ia dzikir kepada-Ku.
Sesungguhnya pintu terbuka bagi siapa yang menyendiri (khusu’) dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Beruntunglah orang-orang yang sendirian, Yaitu orang yang menyendiri dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Karena dzikir itu akan menghilangkan dosa-dosa mereka sehingga mereka akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ringan.
Allah memilih untuk Karunia-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk kepadanya siapa  yang sungguh-sungguh datang kepada-Nya dengan dzikir dengan hati yang ikhlas (khusu’).
Orang yang dijernihkan hati sanubarinya oleh Allah  telah dipenuhi dengan cahaya , maka ia akan merasakan kenikmatan dzikir.

Nabi bersabda : “ Orang-orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti orang hidup diantara orang-orang mati”
“Orang-orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah rumput-rumput kering”.
Adapun dzikir yang utama adalah : Subhanallah,walhamdulillah wala ilaha ilallahu Allahu Akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billahil aliyyil adhiem.
Jika berdzikir dengan hati yang hadir (khusyu’)
Lebih baik lagi sebelum berdzikir mohon ampun dari Allah (istighfar), terlebih dahulu.

Dalam diri manusia ini penuh dengan kotoran dan dosa-dosa , untuk itu bisa diupayakan dengan pensucian dengan istighfar (mohon ampun kapada Allah).

Bagian-bagian yang harus dimintakan ampun pada Allah ada titik-titik sensitif tertentu, karena tempat-tempat itu sumber datangnya dosa, antara lain pada :
-          mata , telinga, hidung, mulut, tangan, kemaluan, kaki .
-          Sebelah kiri bawah dan sebelah kiri atas punting susu kita.
-          Sebelah kanan bawah dan sebelah kanan atas punting susu kita.
-          Pulung hati ( tengah-tengah dada kita).
-          Antara kedua mata .
-          Titik pusat kepala / ubun-ubun ( tempat masuknya Ruh kita dahulu dan tempat keluarnya Ruh kita saat meninggal nanti)
Hati kita pusatkan dengan khusuk pada tempat-tempat tersebut dengan istighfar sekuasa kita setiap selesai shalat sebelum dzikir yang lain. Insya Allah hati kita bersih dari noda dan dosa.
Untuk selanjutnya silahkan berdzikir kepada Allah dengan khusuk dan khlas.

Do’a .

Tata Krama yang baik dan benar dalam berdo’a adalah bersuci terlebih dahulu yaitu berwudhu, menghadap kiblat dengan suara pelan dan merendahkan diri dan yakin akan dikabulkan do’a kita oleh Allah.
Mulailah do’a dengan menyebut nama Allah Ta’ala dan mengucapkan shalawat atas Rasulullah Saw. Tidak sampai do’amu tanpa melalui Muhammad . Karena pada hakekatnya bahwa diri pribadi kita ini berasal dari Ruh Muhammad.
Oleh karenanya kita harus tahu dari mana kita berasal. Kalau kita tahu akan asal diri kita insya
Allah akan mendapat kemudahan dalam berbagai hal.

Nabi saw bersabda; Allah berfirman : “Hai hamba-hamba-Ku, masing-masing dari kamu berdosa, kecuali orang yang Aku selamatkan. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosamu. Dan siapa meyakini bahwa Aku berkuasa mengampuni dosanya, maka Akupun mengampuni dosanya dan Aku tidak perduli”.
Dianjurkan memulai do’a dengan : “ SUBHANA RABBIYAL ‘ALIYIL A’LA WAHHABI LAILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHULA SYARIIKALAHU LAHULMULKU WALAHULHAMDU YUHYII WAYUUMIITU WAHUWA HAYYUN LAYAMUUTU WAHUWA ‘ALAAKULLI SYAI’IN QODIIRUN, RADZIITUBILLAHIRABBAH WABIL ISLAMIDIINAH WABI MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAMA NABIYYAN “ ( Maha Suci Tuhanku Yang Maha tinggi dan Maha Pemberi, Tiada Tuhan selain Allah sendiri tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dan hidup kekal tidak bisa mati dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Nabiku )

Kemudian mengucapkan : “ ALLAHUMMA FATHA’RAS SAMAAWATI WAL ARDZI  ‘ALIMAL GHOIBI  WASYAHAADATI  RABBAKULLII SYAIN  WAMALIIKATU,  ASYHADU ALA ILAHAA  ILA ANTA ‘AU’UDZUBIKA  MINSYARII NAFSII WAMIN SYARRII  SYAITONIRRAJIIM  WASYIRKIHI.”  ( Ya Allah pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang ghoib dan yang nyata, Tuhan segala sesuatu dan Rajanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan syaitan yang terkutuk serta syiriknya ).




Dan ucapkanlah : “ ALLAHUMAA INNI AS’ALUKAL ‘AFWA WAL’AFIYATAN FIDINNI WA AHLIYU  WAMALII , ALLAHUMAA STUR  ‘AURATII  WA’AAMIN RAUA’TII.”  (  Ya Allah, sesungguhnya aku mohon dari-Mu maaf dan keselamatan dalam agama, keluarga dan hartaku.  Ya Allah , tutupilah auratku dan amankan ketakutanku ). Amin.

Ketahuilah do,a itu banyak sekali, maka marilah kita berdoa dengan hati khusu’ Salam atas siapa yang mengikuti petunjuk.

“ Ya Allah berilah cahaya keimanan yang selalu menyala sepanjang masa  didalam hati kami dan memancar dalam kehidupan kami dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara..”
      
“ Tuhanku, harapanku tidak putus dari pada-Mu, meskipun aku telah berbuat dosa maksiat, demikian pula rasa takutku kepada-Mu tidak hilang meskipun aku telah berbuat taat pada-Mu. Tuhanku dekatkanlah aku kepada-Mu dengan Rahmat-Mu supaya segera aku sampai kepada-Mu, da tariklah aku dengan karunia-Mu sehingga aku menghadap kepada-Mu.”

“ Ya robbana, jadikanlah kehidupan dunia kami bermanfaat bagi kami disaat menghadap kepada-Mu kelak di yaumil akhir.”

“ Tuhanku, puaskanlah aku dengan aturan-Mu, dari pada aturanku sendiri, dan dengan pilihan-Mu dari pada pilihanku sendiri, dan dudukkanlah aku ditempat-tempat kebutuhanku yang sungguh-sungguh , dan ingatkanlah aku kepada hajad kebutuhanku yang sangat pada-Mu, supaya selalu tidak lupa pada-Mu.”

“ Engkau Ya Allah yang menerangkan  (menerbitkan) Nur di dalam hati para wali-Mu, sehingga aku mengenal kepada-Mu, dan meng-Esakan Engkau. Dan Engkau pula yang menghilangkan kotoran dunia dari hati pecinta-Mu, sehingga aku tidak suka sesuatu selain-Mu, dan tidak bersandar selain-Mu. Engkaulah yang menggembirakan hatiku ketika aku merasa  jemu dari semua alam, dan Engkau pula yang memberi hidayah kepadaku sehingga terang bagiku tanda-tanda jalan haq / kebenaran."

“ Ya Allah yang memberi rasa kepada kekasih-kekasih-Mu manisnya bermunajad, sehingga kami selalu teguh diri di depan-Mu bersuka-suka. Ya Tuhan yang memakaikan para wali-Mu pakaian kehebatan sehingga kami berbangga dengan kemuliaan-Mu. YA ALLAH  MUDAHKANLAH AKU BERMUNAJAD KEPADA-MU sehingga puas hatiku bersama-Mu, dengan sampaiku kepada-Mu.”

“ Ya Tuhan yang telah berdinding dibalik pagar kemulian-Mu, sehingga tidak dapat dicapai dengan pandangan mata, Ya Tuhan yang telah menjilma dalam kesempurnaan keindahan-Mu, sehingga nyatalah bukti kebesaran-Mu dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan bagaimana Engkau akan bersembunyi padahal Engkaulah yang sangat dhohir (terang) dan bagaimana Engkau akan ghoib padahal Engkaulah pengawas yang tetap hadir. Semoga Engkau Ya Allah yang memberi taufiq, dan kepada-Mulah aku berharap bantuan pertolongan-Mu.”

“ Ya Allah lapangkanlah rezekiku di dunia ini, dan jangan Engkau jadikan penghalang untuk akheratku. Ya Allah , jadikanlah dunia (harta) ku itu di tangan-tangan kami, dan jangan Engkau jadikan di hati kami.”

 “ Ya Allah Engkaulah yang memberi karunia kepadaku, sehingga aku dapat berbuat ketaatan, tanpa ada Karunia-Mu tentu aku tiada dapat berbuat demikian, sebab kami mempunyai daya kekuatan ini semata-mata hanya dari pertolongan Engkau.”

“ Ya Allah perbaikilah urusanku semuanya, dan jangan serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejab mata.”

“ Ya Allah siramilah hati kami dengan berbagai Nur cahaya-Mu, tembusilah hati kami dengan cahaya, limpah ruahkanlah Rahmat-Mu sehingga di dalam hatiku bersinar berbagai Nur.

Bukakanlah hati kami untuk menerima berbagai ilmu dan bukakanlah hati kami rahasia-rahasia Malakut. Hindarkanlah hijab yang menyelubungi hati kami dengan tiupan angin Lutfullah. Ya Allah bersinarkanlah hakekat di dalam diri kami dengan Rahmat-Mu.”




“Allah yang mencukupi saya bagi agama saya, Allah yang mencukupi saya bagi dunia saya, Allah yang Maha Pemurah mencukupi saya bagi sesuatu yang penting bagi saya, Allah Yang Maha Penyantun dan Maha Kuat mencukupi saya terhadap yang dzalim terhadap saya, Allah yang Maha Kuat mencukupi saya terhadap orang yang menipu daya dengan keburukan, Allah yang Maha Penyayang mencukupi saya ketika mati saya, Allah Yang Maha Pengasih mencukupi saya ketika ada pertanyaan di kubur, Allah Yang Maha Pemurah mencukupi saya ketika ada perhitungan amal, Allah Yang Maha Kuasa mencukupi saya ketika di jembatan, Allah mencukupi saya tidak Tuhan melainkan Dia, kepadanya saya berserah diri dan Dia Tuhan Arsy Yang Agung



 F a n a        

Fana artinya lenyapnya indrawi / kebasyiran (tidak lagi melihat alam bahru, alam rupa dan alam wujud ini.
Fana berarti hilangnya sifat buruk / maksiat lahir dan batin. Fana itu lenyapnya segala-galanya, lenyap af’alnya( fana fil af’al), lenyap sifat ( fanafis sifat), lenyap dirinya ( fana aninafsi) à lenyap semuanya yang ada tinggal hanya kebaqoan Allah.
Fana fisifatilah/ baqo bisifatilah artinya : lenyap sirna didalam sifat Allah dan kekal dengan sifat Allah.
Tashauf itu ialah mereka fana dari dirinya sendiri dan baqo dengan Tuhannya karena kehadiran hati mereka bersama Allah.
Ya Tuhan bagaimana caranya supaya aku sampai padamu ?
Tuhan berfirman: “Tinggalkan dirimu , baru kau kemari “ ( Nabi Musa ketika ingin melihat Allah).
Dan didalam leburku / fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi didalam kefanaanku itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan.
Yang dicari orang sufi ialah penghancuran diri yaitu fanaun nafsi ialah penghancuran perasaan atau kesadaran atas tubuh kasar.
Dalam Kitab Insanul Kamil Abu Hasan Annury berkata : Selama 20 (dua puluh) tahun aku merasa diantara ada dan tiada, jika aku berada pada Tuhanku, maka aku  tiadalah pada diriku, dan jika aku berada didalam diriku maka tiadalah aku pada Tuhanku.
Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain itu. Sesungguhnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lainnya ada, akan tetapi tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya
Setelah lebur è Mencapai maqom tertinggi untuk bersatu dengan Tuhan ( Tuhan mengambil tempat dalam dirinya) Wahdatul wujud ( yang ada hanya satu) yakni Abid dan Makbud. Ingat sebelum menghancurkan dirinya, ia tidak dapat bersatu dengan Tuhan (fana). Pada  tingkat fana fizzat  tiada wujud secara mutlak kecuali Allah.
Apabila kalian sulit untuk fana, (telan Bumi, langit, dan semua makhluk ke dalam perutmu) yang ada suatu  perasaan yang tidak bertepi.




SESEORANG TELAH SAMPAI PADA PERASAAN BATIN PADA SUATU KEADAAN YANG TAK BERSISI, TIADA LAGI MUKA DAN BELAKANG, TIADA LAGI ATAS DAN BAWAH PADA RUANG YANG TAK TERBATAS TAK BERTEPI.  BILA KITA TELAH MERASAKAN HAL ITU BERARTI KITA TELAH SAMPAI PADA MARTABAT “ SYUHUDUL HAQQI BIL HAQQI “ DIA TELAH LENYAP  DARI DIRINYA SAMA SEKALI, DALAM KEADAAN MANA HANYA DALAM KEBAQOAN ALLAH SEMATA. SEMUANYA TELAH HANCUR LEBUR, KECUALI WUJUD YANG MUTLAK.

Hai hamba !!! Sesungguhnya alam wujud ini / alam nyata ini seluruhnya adalah gelap. Tampaknya itu adalah karena Tajjalinya Allah dan tampaknya Nur Illahi di dalamnya.
Barang siapa yang hanya melihat kepada pandangan panca inderanya saja niscaya hanya dapat melihat jenis gelapnya saja. Dan barang siapa yang dapat menembus kepada pandangan batin niscaya ia dapat melihat Nur / Alam Malakut, Alam Ghoib. Nur cahaya langit dan bumi.
Barang siapa yang diterangi oleh Allah akan hatinya untuk islam (taat lahir dan taat batin) maka orang itulah mendapat pancaran Nur cahaya dari Tuhannya.

Nur cahaya batin terbagi atas 3 (tiga) bagian :
1.    Nur ilmu  laksana bintang, dapat nampak malam gelap.
2.    Nur Maany laksana Bulan dapat nampak diufuk tauhid, dapat nampak pada pendekatan Allah, berintai-intaian dengan Allah.
3.    Nur Makrifat laksana Matahari, dapat manampak diufuk tafrid/ kemaha –Esaan Allah (lenyap diri kedalam kebaqoan Allah ) dapat memperkuat keyakinan dan menyinari muka dalam musyahadah/ berpandang-pandangan dengan Allah.

Tingkatan Nurul Qolbi ada 3 (tiga) :
·         NUR MENYINGKAP MAKRIFAT PADA WUJUD CIPTAAN ALLAH , bagai cahaya bintang. Nur pada tingkat ini disebut NURUL ISLAM.
·         NUR MENYINGKAP MAKRIFAT PADA SIFATULLAH: Bagaikan cahaya bulan, Nur pada  tingkat ini dinamakan NURUL IMAN .
·         NUR MENYINGKAP PADA DZATULLAH : Bagaikan cahaya matahari, dinamakan NURUL IHSAN.

Sesungguhnya Matahari terbenam di waktu petang, dan sesungguhnya cahaya hati tak kunjung menghilang.
Tempat terbitnya Nur adalah : di hati, di Ruh, Di Sir. Pada alam malakut/ alam ghoib merupakan Nur cahaya batiniah.

Untuk tampak  Nur cahaya Allah tersebut dengan cara : ( AN-Nur 36 ) : “ Pelita itu dalam rumah (masjid) yang telah diijinkan Allah menghormatinya dan menyebut nama-Nya dalam rumah itu, serta tasbih di dalamnya pagi dan petang . “
Hendaklah pengamalan (An-Nur 36 ) ini kita lakukan dengan terus menerus tanpa putus/dawam, setiap nafas kita isi dengan dzikirullah sehari semalam tidak kurang dari 6.666  X  (Hal ini mengandung it’bak dari jumlah ayat Al-Qur’an .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar